Butterfly Era
Kalau dibilang masa-masa ini hanya sebentar, namun bagiku tidak. Aku akan terus merasakannya. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan maupun bertahun-tahun. Dulu kukira kedamaian itu hanya sejenak dan butuh banyak biaya. Ternyata sesederhana ini juga bisa menjadi tenang. Tenang yang tak merusak finansial. Tenang yang bisa diusahakan dengan hati yang tulus. Bukan iba dan juga bukan gengsi.
Sulit untuk menemukan pasangan yang sama-sama tulus terhadap sesuatu. Bukan karena tulus untuk meminta balasan dan tidak diungkit di kemudian hari. Mungkin karena kita setara dan sefrekuensi. Jadi kita bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan dan buat kita terus saling menyayangi.
Apa keinginan terbesarmu untuk hidup bersama dalam jangka waktu yang lama. Yaitu bisa menoleransi kesalahan dan perbaiki bersama. yang tumbuh bersama dalam rumah dan proses yang sama. Setara. Tidak ada yang jomplang untuk bisa saling menyakiti. Bagiku semua hal rumit ini, bisa kita lalui bersama-sama.
Pendewasaan yang dianggap ramai diperbincangkan. Memasuki usia seperempat abad. This quarter life crisis. Krisis jati diri, kehidupan dan cita. Cita-cita yang mungkin belum diraih. Akan bersama sampai berhasil untuk sama-sama meraihnya.
Kalau kata orang, dengan berusaha akan sampai pada akhirnya. Namun kataku, kita bukan hanya perlu berusaha kuat namun berusaha untuk ikhlas untuk semua ekspektasi yang jatuh. Semua angan yang semestinya dapat diraih, harus runtuh runtuh oleh suatu hal sepele.
Mengatur emosi adalah yang paling penting. Kekuatan di sebuah hubungan untuk jangka panjang adalah di pengaturan emosi yang kadang sering terlupakan. Merasa diri harus dihargai namun lupa untuk cara menghargai. Harus belajar untuk sabar satu sama lain. Mungkin dalam semua proses harus saling menghormati.
Disatukan dalam banyak persamaan namun harus tetap menghargai tentang perbedaan. Rumit tapi selalu dilalui dengan baik. Semoga aku dan kamu, selalu bersatu. Menolak lupa, masa-masa keemasan kita yang beranjak dewasa. Memulai kembali apa yang runtuh. Menabung asa. Mengharap kehidupan yang mulia.
Di umur yang sudah tak lagi remaja, sebentar lagi menginjak seperempat abad. Diharuskan untuk menjadi dewasa karena sudah waktunya. Mengedepankan pemikiran dengan berbagai logika. Berusaha menepis ego yang belum reda. Khawatir jika harus terluka. Terluka yang berlebihan.
Rehat dari kehidupan dunia. Memilih untuk menyeka suka cita. Demi akhir yang bahagia. Kita sedang merencanakan hal yang nyata. Bukan angan-angan semata. Masa depan demi kehidupan yang baru, yang lebih cerah.

Comments
Post a Comment