Puncak Perayaan
Harus mulai darimana, aku pun tak tau. Manusia hanya bisa berusaha. Tanpa bisa mengubah akhirnya. Semua terjadi atas kuasa-Nya. Kita tak bisa mengubah keputusan menjadi apa yang kita mau. Harusnya perayaan ini berakhir bahagia. Namun kenapa biasa saja. Cuma beberapa hari baik, sisanya kekacauan. Aku pun masih disini. Berada dalam kondisi yang kacau. Mental, psikis dan hati nurani. Sedang tidak baik-baik saja. Aku harus mengakuinya. Kamar ini sudah cukup lama rapuh. Setelah sedikit perbaikan, kini kembali rapuh.
Ternyata bukan kabur, solusi dari semua masalah. Namun penyelesaian. Rasanya hampa dan ingin pembaharuan. Apapun akan kulakukan demi mengubah apa yang kumau. Semua ini butuh proses. Mimpi-mimpi itu tidak akan runtuh. Aku harus terus merayakan setiap proses. Setiap jatuh bangun yang sedang kualami. Bertanya-tanya pada diri, apa yang salah, dan apa saja yang harus diperbaiki. Semua tidak akan sia-sia.
Terus menerus bertahan dengan situasi yang tidak nyaman akan membuat semakin runyam. Selesaikan sekarang dan terus upgrade. Tidak mau berhenti disini. Aku ingin berjalan maupun berlari untuk tujuan yang aku tuju. Kalau hanya jalan ditempat, tidak akan pernah sampai tujuan yang tepat. Bukan hati yang pendendam yang aku mau. Bukan juga rasa iri yang tersimpan. Aku ingin bergerak maju. Bukan hanya diam tertunduk paku.
Aku tidak selemah itu. Tidak pula sebodoh itu. Aku punya value. Yang harus ditunjukkan. Bukan pengecut dan seorang yang egois. Akan kuajari arti tulus yang sebenarnya. Bukan pengkhianat yang diam-diam menyelundupkan senjata maupun bom waktu. Yang membawa bencana suatu ketika dengan dalih minta tolong. Camkan. Ini bukan soal siapa yang menang akan mengambil piala. Ini tentang integritas dan kejujuran. Jangan banyak bertingkah atau aku sendiri yang akan menghukummu.
Bukan hanya omong kosong dan pembualan. Aku pun ingin keadilan. Jika merasa tidak adil juga untukmu, maka lihatlah apa yang telah kau lakukan. Jangan hanya menutup mata dan berlagak sebagai korban. Setidaknya semua orang tau, bukan hanya mengira-ngira siapa yang salah. Aku harap mereka tau yang aslinya. Bukan dari buaiannya.
Ini bulan perayaanku, mengapa jadi puncak kemenanganmu. Apa aku tidak ada kesempatan untuk merayakan bulan lahirku. Kenapa aku harus melewati kegagalan yang sama. Setiap tahunnya. Apa aku akan mengalami keberuntungan di tahun berikutnya. Aku harap itu. Aku sedang mengusahakannya. Tolong, bantu aku melewati jatuhku kali ini. Jangan menjadi mentalitas korban, dan membuatku menjadi seolah-olah penjahat. Tidakkah kamu tau siapa penjahat sebenernya? Berasal dari tingkah laku dan hatimu.

Comments
Post a Comment