Keikhlasan Batin
Ini mungkin akan jadi penyesalan terpanjang selama hidupku. Bukan karena ketekunan tapi kelelahan dan kebosanan mental. Sebenarnya aku masih belajar bab ini. Bagian yang harus kupelajari tiap hari. Tentang keikhlasan. Keikhlasan tentang takdir yang harus kuterima. Cepat atau lambat aku akan punya segalanya. Segala hal yang akan berjalan baik. Bukan sekarang tapi mungkin esok. Bukan sekarang tapi mungkin nanti. Tuhan memberikan suatu hal baik di massa yang tepat. Di masa dimana aku siap untuk semuanya.
Bukan hanya di fase mental yang kuat. Tapi mental yang ikhlas untuk menerima. Kebersyukuran. Mungkin kadang aku berpikir kebersyukuran itu membuat ku lupa tentang hal yang baik di depannya. Masa depan yang lebih baik jika meniggalkan masa ini. Aku percaya sekarang bukan waktu yang tepat untuk pergi. Beban yang seakan menggerogoti hati dan mental. Akankah ini keputusan yang tepat yang akan ku ambil. Ataukah hanya emosi yang menyala di benakku akibat ketegangan.
Kubilang aku nyaman. Itu yang terjadi. Aku sangat nyaman disini hingga aku lupa untuk melanjutkan masa depanku setelah ini. Aku terpaku pada titik yang sama yang membuat ku tidak bergeming sedikitpun. Tidak bisa bergerak kemanapun dan terbatas pada keseharian yang membosankan. Hal yang paling aku tidak suka adalah berdiam diri. Bukan berdiam diri untuk berpikir. Tapi berdiam diri untuk proses. Proses yang sangat lambat dan membuang-buang waktu.
Aku menjadi tertuntut pada suatu hal yang dinamakan dunia semu. Hanya terfokus pada kebahagiaan dan tuntutan untuk sama dengan yang lain. Padahal tujuan awalku bukan itu. Bukan untuk kebahagiaan yang semu. Sementara. Aku tahu ini bukan kota tujuanku. Namun aku bernapas disini. Aku hidup disini dengan menyenangkan. Sulit untuk meninggalkan. Kenangan yang terlalu indah. Tapi aku harus melnjutkan hidupku. Aku harus mengejar mimpiku. Aku, selalu mengupayakan kesejahteraan untukku untuk terus melaju.
Bukan salah orang lain. Namun ini salahku. Bukan satu tahun yang sia-sia. Namun satu tahun yang penuh warna. Penuh hiruk pikuk. Yang mungkin akan selalu kukenang untuk tahun-tahun setelahnya. Ini tidak akan berakhir. Ini adalah awal. Awal untuk berani menginjakkan diri di kota orang lagi. Awal yang baik untuk melanjutkan perjalanan lagi. Belum tuntas semua kujelajahi. Harus bisa menjadi pribadi yan lebih baik lagi. Aku berterimakasih untuk segala hal yang berlalu. Segala hal yang membuatkan sadar dan terhentak. Dari awal hingga akhir. Aku ingin mengakhirinya dengan damai.

Comments
Post a Comment